Jejak Sejarah Islam di Turki: Dari Ottoman hingga Modern untuk Jamaah Umroh

Jejak Sejarah Islam di Turki: Dari Ottoman hingga Modern untuk Jamaah Umroh
👁️ 3 views

Turki, terutama di kota Istanbul, adalah salah satu destinasi umroh plus paling kaya jejak Islam dalam sejarah peradaban manusia. Lebih dari 1.400 tahun cahaya Ottoman, Bizantium, dan kekaisaran Islam bersinar di kota yang pernah menjadi pusat khilafah dunia. Artikel ini akan membawa Anda menelusuri jejak Islam di Turki dari masa awal masuknya agama ini ke Anatolia, masa keemasan Ottoman, hingga era modern Republik Türkiye — bekal penting bagi jamaah umroh plus Turki 2026.

“Sungguh, Konstantinopel (Istanbul) akan ditaklukkan. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara.”

— HR. Ahmad, hadits tentang penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II pada 1453 M

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Kemenag, Turki menjadi salah satu dari tiga negara plus teratas yang dipilih jamaah Indonesia selain Dubai dan Al-Aqsa. Popularitas ini bukan tanpa alasan: Turki adalah bukti hidup bagaimana Islam bisa berdampingan dengan warisan multi-budaya, dari masjid Bizantium hingga museum modern.

🇹🇷 FAKTA SINGKAT TURKI UNTUK JAMAAH

  • ± 85 juta penduduk (sumber: data.bps.go.id 2024)
  • 99% pemeluk Islam (mayoritas Sunni Hanafi)
  • 624 tahun usia Kesultanan Ottoman (1299–1922 M)
  • ± 1.700+ masjid besar dan kecil di Istanbul saja
  • 6–7 jam penerbangan langsung Jakarta–Istanbul (Garuda, Turkish Airlines)

1. Era Awal: Masuknya Islam ke Anatolia (Abad ke-7 sampai ke-11 M)

Sebelum Islam tiba, Anatolia (wilayah yang kini menjadi Republik Türkiye) adalah bagian dari Kekaisaran Bizantium yang beragama Kristen Orthodox. Hubungan antara dunia Arab dan Bizantium sudah terjadi jauh sebelum Islam, termasuk dalam konteks peperangan dan perdagangan. Ketika Rasulullah SAW masih hidup, Bizantium sebenarnya sudah menjadi tetangga geopolitik dunia Arab — bahkan dalam Surat Ar-Rum (30:1-5), Al-Quran menyebut kekalahan Romawi (Bizantium) di tangan Persia dan prediksi kemenangannya kembali.

1.1. Ekspansi Awal di Masa Muawiyah (661–680 M)

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, ekspansi Islam ke luar jazirah Arab dimulai di masa Khalifah Umar bin Khattab. Beberapa tahun kemudian, pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (661–680 M), armada laut Bizantium mulai sering berhadapan dengan armada Muslim di Mediterania. Upaya pengepungan pertama Konstantinopel dilakukan pada 670 M di bawah Busr bin Abi Artat, yang berhasil membangun basis di Cyzicus (Bandirma modern), tetapi tidak berhasil menaklukkan kota.

Upaya kedua terjadi pada 716–718 M di masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, yang melancarkan pengepungan besar-besaran dari dua arah — laut dan darat. Pengepungan ini gagal terutama karena serangan balasan dari armada Yunani yang menggunakan “Greek Fire” (senjata kimia kuno berupa campuran minyak bumi dan kapur tohor yang dinyalakan). Meskipun gagal, pengepungan ini menjadi legenda yang kemudian dikaitkan dengan hadits tentang penaklukan Konstantinopel.

1.2. Migrasi Suku Turk ke Barat

Pada abad ke-9 dan ke-10 M, migrasi besar-besaran suku-suku Turk dari Asia Tengah ke barat membawa perubahan fundamental. Banyak di antara mereka yang telah memeluk Islam, dan mereka menjadi tentara perbatasan yang sangat efektif bagi kekhalifahan Abbasiyah. Hubungan erat antara militer Turk dan dunia Islam melahirkan dinasti-dinasti penting: Dinasti Thuluni (868 M), Dinasti Ikhsyidi (935 M), dan akhirnya Kekaisaran Seljuk.

2. Masa Seljuk: Pintu Gerbang Anatolia Islam

Titik balik besar terjadi pada 26 Agustus 1071 M, dalam Pertempuran Manzikert (Malazgirt). Saat itu, Sultan Alp Arslan dari Kesultanan Seljuk Besar memimpin pasukan Turk menyerang Byzantium di bawah Kaisar Romanos IV Diogenes. Kemenangan Seljuk membuka pintu Anatolia bagi Islam secara permanen. Setelah Manzikert, banyak kabilah Turk pindah ke Anatolia dan membangun pemukiman yang berangsur-angsur menjadi kota-kota Islam.

2.1. Berdirinya Kesultanan Seljuk Rum (Anatolia)

Seljuk Rum (artinya “Seljuknya Romawi” — nama untuk membedakan dari Seljuk Besar di Persia) didirikan oleh Sulaiman bin Qutalmysh pada 1077 M, dengan ibu kota pertama di Nicaea (Iznik modern), kemudian dipindahkan ke Iconium (Konya modern) pada 1150 M. Masa keemasan Seljuk Rum terjadi di bawah Sultan Kayqubad I (1220–1237 M), yang membangun banyak madrasah, masjid, dan caravanserai (penginapan pedagang) yang menjadi ciri arsitektur Seljuk.

Periode Lokasi Kunci Kontribusi untuk Umat
1071 M Pertempuran Manzikert Pintu gerbang Islam ke Anatolia
1077 M Berdirinya Seljuk Rum di Nicaea/Iconium Negara Islam pertama di Anatolia
1220–1237 M Era Sultan Kayqubad I di Konya Puncak arsitektur Seljuk
1307 M Bubarnya Seljuk Rum oleh Ilkhanat Mongol Masa kekosongan, cikal bakal Ottoman

2.2. Warisan Seljuk yang Masih Bisa Dilihat

Bagi jamaah umroh plus Turki, jejak Seljuk bisa dilihat di beberapa lokasi utama. Di Konya, terdapat Madrasah Karatay (1251 M) dan Madrasah Ince Minareli (1265 M) yang kini menjadi museum. Di Kayseri, terdapat Hunat Hatun Complex (1238 M) yang merupakan kompleks masjid dan madrasah. Di Sivas, terdapat Madrasah Cifte Minareli (1271 M) dengan arsitektur batu pasir yang ikonik. Semua situs ini biasanya masuk dalam itinerary tour plus Turki.

💡 TIPS TOUR: Jika travel Anda tidak memasukkan Konya dalam itinerary, Anda bisa request tambahan hari 1-2 (tambahan biaya ± USD 200-300). Konya adalah kota spiritual Mevlana Jalaluddin Rumi, dan museum Mevlana adalah salah satu museum paling indah di Turki. Banyak jamaah yang mengaku mendapat pengalaman spiritual mendalam di kota ini.

3. Era Ottoman: Puncak Kejayaan Islam di Turki

Kesultanan Ottoman berdiri pada 1299 M oleh Osman I, seorang pemimpin kecil dari Söğüt. Awalnya hanya berupa beylik (kepangeranan) kecil di perbatasan Bizantium, Ottoman secara bertahap memperluas wilayah selama 200 tahun berikutnya hingga akhirnya menjadi salah satu imperium terbesar dalam sejarah manusia. Pada puncak kejayaannya di abad ke-16 sampai ke-17, Ottoman menguasai wilayah dari Budapest di barat hingga Baghdad di timur, dan dari Kairo di selatan hingga Moskwa di utara.

3.1. Sultan-Sultan Besar Ottoman

Sejarah Ottoman mencatat ± 36 sultan selama 624 tahun. Beberapa yang paling penting bagi jamaah untuk diketahui:

  1. Osman I (1299–1326) — pendiri Kesultanan
  2. Mehmed II (1444–1446, 1451–1481) — menaklukkan Konstantinopel 1453, dijuluki “Al-Fatih”
  3. Selim I (1512–1520) — menaklukkan Mamluk, menyatukan khilafah Islam di bawah Ottoman
  4. Sulaiman al-Qanuni (1520–1566) — masa keemasan Ottoman, undang-undang kanunnya menjadi dasar hukum sipil
  5. Abdul Hamid II (1876–1909) — berusaha mempertahankan khilafah hingga keruntuhannya

3.2. Hagia Sophia: Simbol Tiga Zaman

Hagia Sophia (dalam bahasa Turki: Ayasofya) adalah bangunan yang paling penting untuk dipahami jamaah umroh plus Turki. Dibangun tahun 537 M sebagai katedral Bizantium di bawah Kaisar Justinianus I, Hagia Sophia menjadi masjid utama pertama di Istanbul selama 482 tahun setelah penaklukan 1453. Sultan Mehmed II yang pertama kali menyebabkannya menjadi masjid, dan sejak itu banyak sultan menambahkan elemen Islam — termasuk mihrab, mimbar, dan empat menara.

Pada 1934, Mustafa Kemal Atatürk mengubah statusnya menjadi museum sebagai bagian dari program sekulerisasi Turki. Keputusan ini menjadi simbol Turki sekuler selama 86 tahun. Namun, pada 24 Juli 2020, melalui putusan pengadilan administrasi Turki, status Hagia Sophia dikembalikan menjadi masjid, dan shalat Jumat pertama kembali digelar di sini pada 24 Juli 2020 dengan khotib Prof. Dr. Mehmet Boynukalin.

🕌 HAGIA SOPHIA DALAM ANGKA

  • 537 M — Dibangun sebagai katedral Bizantium
  • 1453 — Diubah menjadi masjid oleh Sultan Mehmed II
  • 1934 — Diubah menjadi museum oleh Atatürk
  • 24 Juli 2020 — Kembali menjadi masjid (keputusan pengadilan)
  • ± 3.000 kapasitas jamaah di lantai dasar
  • ± 22.000 total kapasitas di seluruh bangunan

3.3. Masjid Biru dan Masjid Lain

Selain Hagia Sophia, Turki juga memiliki ribuan masjid bersejarah. Yang paling terkenal dan wajib dikunjungi jamaah umroh plus:

Masjid Lokasi Tahun Catatan
Hagia Sophia Istanbul 537 (masuk Islam 1453) Simbol tiga zaman
Sultan Ahmed (Biru) Istanbul 1616 6 menara, dinding biru
Süleymaniye Istanbul 1557 Mimar Sinan, masterpiece arsitektur Ottoman
Eyüp Sultan Istanbul 1458 Makam Abu Ayyub al-Anshari, sahabat Nabi

4. Era Modern: Republik Türkiye dan Warisan Sekuler

Kesultanan Ottoman resmi berakhir pada 1 November 1922, ketika Grand National Assembly Turkey membubaran kekhalifahan. Pada 29 Oktober 1923, Republik Türkiye didirikan dengan Mustafa Kemal Atatürk sebagai presiden pertama. Atatürk menjalankan program sekulerisasi masif: menghapus khilafah (3 Maret 1924), mengganti alfabet Arab dengan Latin, menghapus fez dan cadar, mengadopsi hukum Barat, dan mendirikan sekolah-sekolah sekuler.

4.1. Turki Saat Ini: Moderat Islam

Di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan (sejak 2003 sebagai Perdana Menteri, 2014 sebagai Presiden), Turki mengalami kebangkitan Islam moderat. Pembangunan masjid besar di Ankara dan Istanbul, peningkatan jumlah sekolah imam-hatip, dan kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid pada 2020 adalah beberapa indikator. Bagi jamaah umroh plus, ini berarti pengalaman berkunjung ke Turki di 2026 akan sangat berbeda dengan 20 tahun lalu — Islam lebih kental, tetapi tetap moderat.

4.2. Masjid-Masjid Modern Ikonik

Selain masjid bersejarah, Turki juga memiliki masjid modern megah. Yang paling menarik bagi jamaah:

  • Çamlıca Mosque (2019) di Istanbul — masjid terbesar di Turki, kapasitas 63.000 jemaah
  • Sabancı Merkez Camii (1998) di Adana — salah satu masjid terbesar di Timur Tengah
  • Kocatepe Mosque (1987) di Ankara — masjid utama ibu kota dengan arsitektur neo-Ottoman

5. Adab Berkunjung ke Situs Bersejarah

Situs bersejarah Islam di Turki adalah tempat yang sangat dihormati, baik oleh Muslim maupun non-Muslim. Beberapa adab yang perlu diperhatikan jamaah:

  1. Pakai pakaian menutup aurat — bagi perempuan, jilbab wajib di masjid dan area konservatif. Travel biasanya menyediakan, tetapi membawa sendiri lebih baik
  2. Lepas sepatu di masjid — banyak masjid menyediakan tas plastik untuk sepatu, bawalah kantung plastik kecil sendiri
  3. Hormati waktu shalat — jangan masuk masjid lima menit sebelum adzan, tunggulah sampai selesai
  4. Jangan berisik — terutama saat tour leader menjelaskan, dan jangan memotret dengan flash
  5. Jangan makan/minum di area masjid dan museum
📋 CHECKLIST BUSANA JAMAAH DI TURKI:

  • Jilbab / kerudung (cadangan 2–3, pilih bahan yang tidak mudah kotor)
  • Baju kurung / gamis (warna gelap lebih aman, tidak menarik perhatian)
  • Celana panjang longgar (bukan jeans ketat)
  • Kaos kaki tebal (lantai masjid bisa dingin di musim dingin)
  • Sandal yang mudah dilepas-pasang (untuk masuk masjid)

6. Perspektif Islam: Hikmah dari Sejarah Ottoman

Sejarah Ottoman mengajarkan beberapa hikmah penting. Pertama, kekuatan militer saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah imperium; diperlukan juga sistem hukum yang adil (Kanun-i Osmani), toleransi beragama (non-Muslim dibiarkan menjalankan ibadah dengan bebas), dan inovasi administratif. Kedua, kejayaan Ottoman tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari seorang pemimpin kecil di Söğüt. Ketiga, keruntuhan Ottoman sebagian besar disebabkan oleh faktor internal (kemunduran, korupsi) dan eksternal (kolonialisme Barat), bukan semata-mata oleh perubahan zaman.

6.1. Pelajaran untuk Jamaah Umroh

Sebagai jamaah umroh plus, kunjungan ke Turki seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan: bahwa Islam pernah jaya bukan karena kekayaan, tetapi karena adab, ilmu, dan keadilan. Masjid-masjid Ottoman dibangun bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan (madrasah), rumah sakit (darüşşifa), dapur umum (imaret), dan penginapan (tabhane). Konsep wakaf produktif ini adalah warisan Islam yang bisa dicontoh untuk membangun peradaban di Indonesia.

7. Kisah Nyata Jamaah: Pengalaman Pertama di Hagia Sophia

Ibu Rina (45), jamaah asal Jakarta, menceritakan pengalamannya masuk Hagia Sophia untuk pertama kalinya. “Saya tidak bisa membayangkan bahwa ruang di mana saya berdiri saat itu pernah menjadi tempat di mana Paus memimpin misa untuk 5.000 orang, lalu diubah menjadi masjid oleh Sultan Mehmed II setelah penaklukannya. Saya menangis terharu saat saya melihat mihrab yang masih asli dari abad ke-15, dan di sampingnya ada mosaik Bunda Maria dan bayi Yesus yang masih dipertahankan — itu adalah simbol toleransi.”

Cerita serupa datang dari Pak Arif (50), jamaah asal Medan. “Saya shalat Dzuhur di Hagia Sophia. Saat imam memimpin shalat, saya teringat bagaimana Nabi Muhammad SAW sendiri pernah bersabda tentang penaklukan Konstantinopel yang akan datang. Itu adalah sesuatu yang telah dinubuatkan 800 tahun sebelumnya, dan terbukti pada 1453. Saya merasa shalat saya diterima di tempat yang penuh dengan doa dan sejarah.”

Kedua kisah ini menunjukkan bahwa umroh plus bukan sekadar perjalanan, tetapi sebuah transformasi spiritual. Jamaah pulang dengan pengalaman yang mengubah cara mereka memandang Islam dan dunia.

8. Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

8.1. Apakah jamaah perempuan boleh masuk Hagia Sophia?

Boleh. Hagia Sophia terbuka untuk semua jamaah Muslim, laki-laki dan perempuan, dengan aturan berpakaian yang ketat (jilbab untuk perempuan, celana panjang untuk laki-laki). Area perempuan di lantai dasar berada di sisi selatan, sedangkan laki-laki di sisi utara dan tengah. Saat akhir pekan dan Ramadhan, area ini bisa sangat penuh.

8.2. Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi Turki?

Musim semi (April–Mei) dan musim gugur (September–Oktober) adalah waktu terbaik. Suhu rata-rata 18–25°C, nyaman untuk jalan kaki. Musim panas (Juni–Agustus) bisa sangat panas (30–38°C), terutama di area terbuka seperti Topkapi Palace. Musim dingin (November–Maret) bisa dingin (0–10°C) dan kadang salju, tetapi harga lebih murah.

8.3. Apakah aman bagi jamaah Indonesia di Turki?

Sangat aman. Turki adalah salah satu tujuan wisata teraman di dunia untuk keluarga. KBRI Ankara dan KJRI Istanbul siap membantu jika ada kendala. Bahasa Inggris cukup umum dipahami di area wisata, dan banyak tour leader Indonesia yang sudah sangat熟悉 dengan kota-kota tujuan.

8.4. Berapa lama waktu yang ideal untuk umroh plus Turki?

9–12 hari adalah durasi ideal. 4 hari untuk umroh di Mekkah-Madinah, 5–8 hari untuk Turki. Itinerary 9 hari biasanya: Madinah 2 hari, Mekkah 2 hari, Istanbul 5 hari. Itinerary 12 hari: tambah Bursa, Edirne, atau Cappadocia. Jamaah lansia biasanya memilih 12 hari untuk ritme yang lebih santai.

8.5. Apakah perlu belajar bahasa Turki?

Tidak wajib, tetapi menguasai beberapa frasa dasar sangat membantu: “Teşekkürler” (terima kasih), “Lütfen” (silakan), “Selamün Aleyküm” (assalamu’alaikum), “Aleyküm Selam” (wa’alaikumussalam). Banyak orang Turki yang menguasai bahasa Arab karena sejarah Ottoman, sehingga memberi salam dalam bahasa Arab akan mendapat respons hangat.

9. Kesimpulan

Sejarah Islam di Turki adalah salah satu narasi peradaban paling kaya yang bisa dijelajahi jamaah umroh Indonesia. Dari era Seljuk yang membuka pintu Anatolia, ke Ottoman yang menjadi kekaisaran Islam terbesar, hingga Türkiye modern yang kembali ke akar Islam, setiap lapisan sejarah memberikan pelajaran yang berharga.

Jika Anda merencanakan umroh plus Turki 2026, persiapkan diri dengan membaca artikel ini, datang dengan niat ibadah, jaga adab di setiap situs, dan Anda akan pulang dengan pengalaman yang mengubah hidup. Turki bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang kelas berjalan tentang bagaimana Islam pernah dan bisa berjaya.

🕌 SIAP MENIKMATI UMROH PLUS TURKI?

Dapatkan paket umroh plus Turki 2026 dari hajiumrohtravel.com — itinerary lengkap, hotel bintang 4–5, dan tour leader yang paham sejarah Islam.

Lihat Paket Umroh Plus Turki →

Konsultasi Gratis Tim kami siap membantu